Opini
IPM, Pendidikan dan Peradaban

IPM, Pendidikan dan Peradaban

  • Pendidikan dan Kompetensi pada Organisasi  Pelajar

Pendidikan adalah bidang yang menjadi ruang lingkup besar yang mencakup juga Pelajar. Seiring dengan hadirnya pendidikan yang memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat dengan salah satu aspek pendidikan yaitu Psikomotorik (Keterampilan). Potensi tersebut dapat diperoleh dari ranah Organisasi Pelajar sebagai pemegang peran sebagai “Human Capital” pada implementasinya di Organisasi Pelajar. Dan juga yang mempunyai akses lebih dekat dengan masyarakat yaitu Organisasi juga dibandingkan dengan Institusi pelajar itu sendiri.

IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) adalah salah satu dari beberapa organisasi pelajar yang mengedepankan kepentingan pendidikan dan keilmuan. Akan tetapi beberapa kebijakan yang dilakukan oleh IPM didalam dunia pendidikan yang menunjukan bahwa IPM belum memiliki peran khusus sebagai salah satu organisasi pelajar terbesar di Indonesia ini. Bahkan dengan adanya peran Muhammadiyah sebagai poros pendidikan di Indonesia yang lebih banyak memiliki institusi pendidikan seperti Sekolah Dasar dan Menengah serta Kejuruan lebih banyak dibandikan dengan Organisasi Masyarakat lainnya di Indonesia.

Pendidikan dan Kompetensi adalah sebuah kesinambungan yang saling memiliki benefit dalam mengembangkan perannya masing-masing. Pendidikan tanpa adanya kompetensi tidak memiliki tujuan jelas mengenai kemana akan berlanjutnya pendidikan tersebut. Kompetensi diatur dalam amanat undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 yang menyatakan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak Mulia, Sehat, Berilmu, Cakap, Kreatif, Mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Pentingnya Kompetensi yang berlaku  di masyarakat terutama yang memenuhi kebutuhan dan orientasi dari masyarakat di daerah masing-masing.

Ini membuktikan bahwa adanya kompetensi dalam pendidikan sangat dibutuhkan setelah pendidikan tersebut telah tuntas dilaksanakan, dengan adanya kompetensi keterampilan-keterampilan yang ditempuh oleh Pelajar menjadi alternatif untuk diberdayakan ke kehidupan masyarakat. Maka konsep dari ‘Link and Match’ yang dipopulerkan oleh Mendikbud Wardiman Djojonegoro diperkuat kembali demi berlangsungnya proses pembelajaran yang tidak terus formal dilakukan secara monoton di institusi, melainkan juga pengembangan tersebut dilakukan di tengah-tengah masyarakat.

  • Isu Strategis Pendidikan dan Diplomasi dengan Stakeholder

Pendidikan yang seharusnya menjadi topik isu utama dalam perbincangan dan program para elite di kalangan Organisasi Pelajar belum menjadi perhatian yang utama dalam berlangsungnya periodesasi tersebut. Banyak kebijakan yang menjadi sorotan bagi para elite yang bergerak di dunia Pendidikan dan tidak menjadikan sebuah ruang publik bagi masyarakat untuk mengetahui makna dari kebijakan tersebut yang pada akhirnya banyak dari masyarakat menganggap bahwa tidak ada peranan penting yang diambil dalam menanggapi kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Pentingnya memiliki hubungan erat dengan para stakeholer sangat diperlukan untuk melangsungkan pemberdayaan nilai-nilai di sebuah Organisasi, terutama juga dengan adanya tujuan di sebuah organisasi melangsungkan cita-citanya. IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) pada hari ini belum menjadi sorotan utama stakeholder di wilayahnya, bukan karena eksistensinya yang kurang melainkan perkembangan di era ini yang terjadi di luar IPM seharusnya menjadikan konsep utama dalam menjawab tugas utama IPM eksis sebagai salah satu pemegang peranan penting Pelajar di beberapa kota penting di Indonesia seperti ibukota dan kota besar lainnya.

Nilai-nilai keilmuan pun dapat ditemukan seiring dengan menjadikan fokus utama IPM kepada penguatan Isu Strategis Pendidikan, berbasis SDM yang memiliki expert di bidang Pendidikan bukan menjadi hal yang tidak mungkin IPM bisa eksis pada pentingnya peranan pelajar sampai memiliki peran penting dalam terbentuknya kebijakan yang dapat menguntungkan banyak pihak, termasuk kepentingan pelajar. Dan juga turut menghadirkan beberapa Program dan Gerakan-Gerakan yang masif berdasarkan kepada nilai Keilmuan dan menghadirkan Pelajar sebagai tokoh utama dan kerjasama dengan instansi terkait, tentu juga yang menjadi sasaran utama dari program masif ini ialah masyarakat.

Bukan satu atau dua hal yang harus dijadikan persoalan utama dalam mewujudkan Masyarakat Ilmu, akan banyak sekali persoalan yang menjadi alasan kuat mengapa menghadirkan masyarakat ilmu itu sendiri sangatlah penting. Di Masyarakat di Ibukota DKI Jakarta memiliki presentase yang tebilang sangat minim mengenai Penduduk DKI Jakarta mayoritas menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat SLTA yaitu sebesar 38,33%. Sebanyak 28,10% penduduk hanya mampu menamatkan pendidikan hingga tingkat SD, dengan rincian penduduk yang tidak sekolah dan tidak tamat SD/sederajat sebesar 11,08%, dan tamat SD sebesar 17,02%. Untuk penduduk yang mengecap pendidikan tinggi hingga lulus hanya mencapai 16,01 persen, yang terdiri atas 4,57 persen lulusan diploma dan 11,51 persen lulusan sarjana. Dan itu adalah data yang realistis melihat perkembangan Jakarta sebagai Ibukota negara, refleksi perlu dilakukan karena ini akan berdampak pada perkembangan di kota lainnya dalam mencakup pendidikan yang ideal.

Data yang dihadirkan adalah cukup drastis dibandingkan dengan presentase yang dimiliki oleh banyak kota-kota besar di Indonesia, dan dalam menjadikan kompetensi dalam menghadirkan pengembangan softskill dan lifeskill bagi masyarakat agar dapat memenuhi sesuai kebutuhannya masing-masing. Bidang-bidang yang diampu oleh para pelajar juga harus berkesinambungan dengan analisa kebutuhan yang ada di masyarakat di Ibukota. Dikarenakan kualitas hidup yang menunjukan ketimpangan sosial yang ada di masyarakat Ibukota harusnya cukup membuat para pemilik kebijakan dan elite dari organisasi tergerak untuk melaksanakan perubahan dan menghadirkan solusi bersama demi terwujudkan kualitas berkehidupan masyarakat yang layak dan sesuai. 

Ini menjadikan acuan yang seharusnya dengan Ibukota sebagai tempat utama berkembangnya sumber Informasi dan banyak perkembangan lainnya, memahami esensi stategis isu yang di kedepankan. Dengan mengedepankan pendidikan maka sumberdaya ‘Masyarakat’ menjadi sebuah kebudayaan dalam membangun, peningkatan kualitas kehidupan dan memelihara ilmu pengetahuan juga mengembangkan perkembangan teknologi. Definisi bagi Masyarakat Ilmu itu sangatlah penting mempertahankannya mungkin akan lebih sulit dibandingkan membangunnya. Maka itu sebuah solusi dihadirkan untuk menjadikan fokus utama IPM ialah menjadi elite pemegang peranan penting di bidang Pendidikan dengan para pemilik kebijakan Masyarakat itu sebagai jembatan aspirasi dan respirasi untuk terus eksisnya IPM sebagai Rumah Pelajar di Indonesia.

  • Pengembangan Media dan Teknologi

Pada era yang sudah masuk pada era digital ini kita sudah mengenal baik dengan adanya media informasi dan teknologi itu sendiri. Tradisi media dalam perkembangannya ialah terus eksis menjadi produk konsumtif bagi masyarakat pada umumnya, juga menjadi pengembangan yang dilakukan untuk melangsungkan kepentingan media tersebut.

Media baru ditetapkan sebab memiliki bagian dari perubahan global. Konotasi media baru hadir dari perkembangan sosial yang didorong oleh perkembangan teknologi. Hadirnya media baru memberikan peningkatan dalam bidang pendidikan, kreativitas dan komunikatif yang baru pula. Khalayak tidak hanya menjadi konsumen yang pasif melainkan menjadi produsen yang aktif.

Interaktivitas merupakan salah satu nilai tambahan dari media baru sebab tidak hanya menjadi konsumen melainkan menjadi produsen. Berfokus bukan hanya pada menjadi user daripada sudut pandang viewer dari budaya visual. Virtual merupakan perkembangan dari media yang disimulasikan secara teknologi. Simulasi merupakan suatu cara untuk menggambarkan ciri atau karakteristik dari suatu sistem yang nyata. Terdapat beberapa aspek yang membedakan jenis media.

Pengalaman tekstual yang baru, cara mewakili keadaan dunia pada saat ini, hubungan baru antara subjek, pengalaman baru dari hubungan antara perwujudan ide dan komunitas, konsep baru berhubungan dengan media teknologi dan pola baru organiasi dan produksi. Menjadikan media sebagai poros berputarnya informasi baru dikalanagan pelajar juga sangat berguna mengingat bahwa media yang cukup memiliki peminat dan konsumen banyak akan terus hidup dengan seiringnya prilaku masyarakat yang konsumtif dan haus akan keingintahuan mengenai perkembangan, oleh karena itu menjadikan media adalah sebuah keuntungan yang cukup baik.

Di era digitalisasi ini yang mengedepankan perkembangan teknologi dan informasi yang ada tentu menjadi peluang bagi IPM dalam mengimplementasikannya di pergaulan organisasi pelajar saat ini. Bagaimana menerapkan sistem yang menampilkan efisiensi fungsi dan mempermudah akses untuk dilakukan. Menjaring komoditas lebih mudah dan menjadikan tempat sharing yang cukup untuk mendapatkan informasi dimanapun dan kapanpun.

  • Pengembangan Kreativitas dan Kebudayaan

Kreativitas dapat dianggap sebagai kapasitas yang melekat dan kebutuhan dari spesies manusia yang memiliki nilai kelangsungan hidup bagi individu maupun budaya (Runco & Albert). Ditegaskan pula bahwa kreativitas adalah bagian dari budaya sebagai perubahan genetik yang dihasilkan dari evolusi biologis (Csikszemtmihalyi, 1996). Salah satu asumsi dasar dari studi ini adalah pengembangan kreativitas dalam budaya yang berbeda dan bervariasi dalam praktik mengasuh anak yang ideal dengan nilai-nilai budaya, keyakinan, ekonomi dan lingkungan tertentu akan mempengaruhi tingkat kreativitas.

Pertama, budaya dapat dipahami sebagai pola makna yang tertanam dalam simbol dan diwariskan secara historis, sebagai sebuah sistem konsepsi turunan yang diekspresikan dalam bentuk simbolik dan digunakan untuk berkomunikasi, bertahan hidup, dan mengembangkan pengetahuan tentang hidup dan sikap terhadap kehidupan (Clifford Geertz, dalam McLeod, 2013).

Kedua, kreatifitas merupakan kapasitas untuk memproduksi sesuatu yang baru dan berguna, bisa dalam bentuk ide, prilaku atau produk. Kreativitas itu hadir dengan didukung oleh faktor personal, situasional dan budaya (Runco, 2004).

Ketiga, budaya kreatif adalah prilaku, aktivitas atau cara hidup seseorang atau yang efektif, komunikatif dan merujuk pada sikap terhadap situasi sosial dan  fenomena kehidupan.

Kreativitas yang pada saat ini menjadi identik dengan sebuah pembaharuan yang dibutuhkan bahkan dicari-cari. Kreativitas dimanifestasikan dalam kebudayaan dan peradaban, secara akumulatif dan diskursif terus menerus mengisi dan memperkaya khasanah kebudayaan. Dalam IPM kreativitas yang dihasilkan adalah menghadirkan sesuatu yang baru dalam melaksanakan program dan kebijakan, juga menghadirkan aktivitas-aktivitas yang memiliki bobot yang cukup dalam berperan dan menghasilkan produk yang  baru, tergantung pada tingkat kontribusi dari peranan tersebut.

Dalam menghadirkan kreativitas dalam aktivitas IPM memerlukan kajian-kajian dan diskursus yang mendalam secara komprehensif. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut maka akan hadirnya banyak inovasi gerakan melalui pembahasan bukan sekedar hanya putus di perbincangan. Memanfaatkan aktor-aktor dari perubahan itu dalam membuat ruang publik bagi IPM, Pelajar dan juga Masyarakat. Memanfaatkan pengembangan yang sedang naik- naiknya dari berbagai bidang dari mulai teknologi informasi hingga peningkatan ekonomi dan pendidikan.

Berbudaya dalam pengertian ialah menurunkan suatu cara hidup yang bisa diwariskan dari generasi ke generasi yang berupa banyak hal termasuk sistem. Maka yang dapat diimplementasikan kepada masyarakat ialah bagaimana menjadi masyarakat yang berilmu dengan metode membudayakan makna ilmu sebagai pembaharuan, dan manjadikan hasil kreativitas itu sendiri adalah Masyarakat Ilmu.

*) Catatan

  • Penulis adalah Muhammad Sayyid Ridho Sekretaris Umum PW IPM DKI Jakarta.
  • Substansi tulisan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.
Yuk Bagikan Tulisan ini !!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *