Ipmawati Berkarya
#IpmawatiBerkarya – EMBUN PEMUJA SEORANG PEMAIN BAB 1

#IpmawatiBerkarya – EMBUN PEMUJA SEORANG PEMAIN BAB 1

EMBUN PEMUJA SEORANG PEMAIN

BAB 1 Sekolah

Aku tidak pernah menyangka kalau kita akan bertemu kembali, karena kesibukan masing-masing yang kita miliki. Aku juga tidak pernah tahu kalau kita berada diruang kelas yang sama.

Matahari mengabarkan akan meredup, sinaran itu yang kusuka ketika hari liburan mulai berakhir dan memulai hari dengan sekolah di hari esok.

“Assalamu’alaikum Tarsya” suara itu tidak asing lagi bagiku, karena dia teman sekolahku dan karena keakraban kita saat di kelas yang sama selama dua tahun, berangkat dan pulang sekolah bersama.

“Wa’alaikumussallam, silakan masuk Febi, ada apa? Tumben sekali kamu ke rumah, padahal sudah sore begini”

“Kamu tidak ingat besok kita mulai sekolah dan dikelas yang baru lagi!? karena kita sudah kelas dua belas SMA? Oke, aku tidak akan banyak basa basi lagi, kita sekelas lagi Tar!”

“Iya kah? Coba kulihat” diri ini sungguh merasa senang, karena aku akan sekelas lagi dengan Febi selama tiga tahun lamanya. Tapi mata ini sungguh terkejut saat mengetahui ada nama dia di sana, aku sekelas dengannya.

Bertanya-tanya dan memikirkan hari esok, dimana akan bertambah teman baru, suasana baru, dan pengalaman baru juga. Kehidupan di sekolahku memang seperti itu, setiap akan naik ke jenjang yang lebih tinggi, kelas murid akan diacak ulang untuk lebih mengenali satu sama lain karena murid di sekolah yang begitu banyaknya.

Aku sudah tahu kalau aku akan sekelas dengannya, bagaimanapun juga aku harus merasa baik-baik saja, tidak perlu banyak yang harus di khawatirkan karena hanya perihal sekelas dan itu tidak lebih.

Satu yang kusuka darinya adalah karena dia salah satu orang yang sangat berbeda di sekolah, mulai dari cara berpakaian, cara belajar dan sifat yang mendasarinya.

Berhari-hari dan berbulan-bulan dia tetap sama, dia tetap menjadi dirinya sendiri, kami sudah saling kenal satu sama lain, kamu harus tahu ini, biasanya laki-laki itu akan menempatkan tempat duduk di belakang atau di pinggiran. Tetapi, dia benar-benar berbeda, dia yang malah duduk di depan meja guru bersama temannya yang sifat hampir sama sepertinya.

Aku duduk di belakangnya, ya.. Ini tidak disengaja aku memang iseng mencari tempat duduk di bawah kipas angin dan kebetulan didepanku itu dia.

-BERSAMBUNG-

 

Karya Cerita Pendek

dari TRI LESTARI – Komunitas Writer of Ipmawati DKI

Yuk Bagikan Tulisan ini !!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *